Andi Wahab Mg : Jangan Sampai Ada “Setan” Di Ujung Penamu

Andi Wahab Mg, Karaeng Butung.

JENEPONTO | Salah seorang Wartawan Senior asal jeneponto yang juga pendiri Media Perintis pada tahun 1998. Media itu berdiri sejak tumbangnya orde baru yang berkantor di jalan Topas raya F51, Panakukang mas saat itu.

Andi Wahab Mg Kareng Butung mengatakan, Perintis hanya dapat eksis sampai tahun 2003, penyebabnya karena persoalan perwakilan dan sisi permodalan serta tanggu jawab yang menyangkut masalah management yang kocar kacir.

“Media Perintis ini banyak melahirkan wartawan salah satunya Ruslan Ramli yang menjabat pimpinan redaksi harian Fajar dan masih banyak lagi yang lainnya. Jadi saat itu media Perintis, hanya terbit mingguan,”jelas Andi Wahab Mg. Ju’mat (5/4/2019).

Selain itu, Andi Wahab menjelaskan, bahwa berdasarkan catatan sejarah Wartawan itu adalah ratu dunia dan tentu harus menjaga harkat dan martabat karena pers itu adalah profesi intelektual.

Di era di gital sekarang ini, ia mengakui cukup banyak perubahan di dunia Jurnalistik, munculnya Media Online bagian dari kekuatan jurnalis di negara kita. Namun di harapkan juga parah tokoh pers tidak boleh berpangku tangan, harus membina Pers Online.

“Saya ini berpendapat, di era sekarang sangat di harapkan kebebasan pers, namun jangan sampai ada setan di ujung penamu, seperti kalimat yang sering di dengunkan oleh tokoh pers di antaranya Rahman Arge, Andi Muin Mg, Muktar Lubis, Yacob Utama, kalimat ini yang saya pinjam dari tokoh Pers tersebut, saya sering diskusi dengan tokoh pers itu,”ucap Andi Wahab.

Selain itu, wartawan itu bukan karena dia senioritas, namun yang di butuhkan itu profesionalisme. Bahkan berharap ia untuk memperkuat barisan jurnalis di bidang media Online di Sulawesi Selatan.”wartawan itu harus kaya ide,”harapnya.

Diketahui, Bahwa banyak tokoh Pers Nasional asal Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan diantaranya Muhammad Basir Pendiri Harian Pedoman Rakyat, Syamsuddin DL Pendiri Harian Tegas, dan Andi Wahab Mg itu adalah bagian generasi dari pak Syamsudin DL dan Muh Basir.