Kadis Lingkungan Hidup Sebut Tak Ada Anggaran Septi Tukang Sapu di Jeneponto

LINKBERITA.com, JENEPONTO– Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jeneponto, Suardi mengatakan, sebanyak 34 orang tukang sapu yang tersebar dibagian perkotaan Jeneponto tidak dilengkapi pasilitas septi berupa pakaian, sepatu, masker dan mantel,

“Itu memang tidak ada anggarannya untuk kelengkapan yang begitu-begituan, karena ada yang lebih mendesak, jadi kita larikan ke bahan bakar minyak untuk armada. Karena kapan armada tidak jalan maka semuanya akan lumpuh,” ucapnya kepada wartawan. Selasa, (4/12/2018)

Menurut Suardi, ada 34 tukang sapu yang ada dipinggir jalan menyapu, itu diluar dari pekerja saluran dan sopir. Mereka itu bukan honor yang di SK kan seperti dengan K2, mereka hanya diperkerjakan dibawah naungan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jeneponto.

“Jadi sistem penggajiannya itu semacam upah saja, yang dibayarkan setiap bulan. Dan kalau persoalan gajinya itu lancar, persatu tukang sapu digaji minimal 900 ribu rupiah perbulan, dan bahkan ada yang Rp.1.000.000 (satu juta rupiah). Upahnya itu bervariasi tergantung tingkat pekerjaannya,” sebutnya

Tambahya, memang pihak kami tidak menganggarkan karena ada yang lebih mendesak. Terkait kelengkapanya itu, banyak-banyak di larikan ke bahan bakar. Itupun kata dia, bahan bakar armada saja terkadang kekurangan yang biasanya dapat mengangkut sampah satu hari pul jalan, sisa setengah hari karena bahan bakar yang tidak tercukupi, terang Suardi.

Sementara, salah seorang tukang sapu, yang ditemuai oleh media ini. Enggan disebutkan namanya, keluhkan penggajian upah Dinas Lingkungan Hidup Jeneponto, yang diduga tidak relevan dengan upah yang diperolehnya. Karena menurut dia, digaji perdua bulan, bahkan tiga bulan baru diterima sekali gus, katanya

“Saya kurang lebih tiga tahun bekerja sebagai tukang sapu tidak pernah menerima gaji pas satu bulan, selamanya 2 bulan bahkan 3 bulan baru dibayarkan semua, apalagi mau dapat mantel atau penutup mulut itu tidak,” kesal dia,

“Saya bertugas menyapu seputaran Rujab dipinggir jalan, menyapu dua kali dalam satu hari (pagi dan sore) hanya dapat digaji 950 ribu, itupun tidak menentu cara menggajinya, kadang dua bulan, kadang juga 3 bulan baru diterima,” tuturnya

Lanjutnya, sedangkan pekerja saluran yang di got-got itu, lebih banyak gajinya hingga sampai satu juta lebih, sementara jarang keluar membersihkan, itupun nanti kalau ada got yang tersumbat, baru turun di lapangan,

“Kita yang pekerja tukang sapu dipinggir jalan, menyapu dua kali dalam satu hari cuma di gaji sembilan ratus lebih. Sedangkan pekerja saluran beruntung kalau bekerja satu kali dalam 2 minggu, itu pun mereka turun kalau ada got yang tersumbat, jadi kalau tidak ada got yang tidak tersumbat, tidak ke lapanganmi juga.” Terangnya kepada media.

Editor : Samsir