Mengenal Lebih Dekat Kampung “Panre Bassi” Pandai Besi di Jeneponto

LINKBERITA.COM, JENEPONTO – Tempat yang terkenal dengan Kampung pandai besi atau biasa masyarakat menyebutnya, Panre Bassi di Kampung Sapaloe dan Barajarang, Lingkungan Camba Jawa, Kelurahan Tolo Kota, Kecamatan Kelara, Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan Indonesia. Selasa (7/8/2018).

Wilayah itu sangat terkenal sebagai kampung Panre Bassi sejak puluhan tahun, Keahlian warga di Kampung Barajarang di wariskan secara turun temurun dari nenek moyangnya. Maka tak heran jika saat pertama kali memasuki kampung tersebut.

Pantauan Linkberita.com, masuk wilayah itu, kita langsung di sambut dengan suara dentingan besi beradu yang hampir di setiap rumah dengan berbagai logam di produksi. Di kampung itu hampir setiap hari seorang lelaki memiliki keahlian untuk mengolah besi yang di selimuti kerja keras, di siplin dan di perlukan ketelitian yang sangat tinggi.

Beragam alat pertanian dan perlengkapan rumah tangga seperti pisau, sabit, cangkul dan linggis dan senjata tajam yang di hasilkan dari perajin di skala rumahan. Pekerjaan yang di lakukan oleh Panre Bassi yang hanya berbekal dengan menggunakan peralatan yang tergolong masih sangat sederhana untuk proses pembuatannya.

Karena mereka harus berkutat dengan panas yang di hasilkan arang yang di bakar saat memanasi besi yang akan di bentuk dan di butuhkan kerja sama yang baik saat melakukan proses pembuatannya karena kalau kurang berhati hati salah sedikit kulit tangan terkena besi panas yang membara. 

Kesan dengan benda berat, panas dan suara bising tentu menjadi bagian dari pekerjaan dan beberapa peralatan yang ada, berasal dari tempat ini. Pekerjaan panre bassi yang di andalkan kekuatan fisik di penrajin dengan cara mengayungkan palu besar untuk membentuk besi yang telah di panaskan sebelumnya.

Tak hanya berisiko, terkena percikan besi panas, juga yang tidak menggunakan alat pengaman pun harus memiliki tenaga dan fisik yang ekstra kuat. Menumbuk besi di lakukan secara berulang ulang. Salah satu bagian sisinya di pukul hingga tipis. Sedangkan sisi lainnya di biarkan tebal dan agak tumpul.

Tidak sulit bagi para perajin untuk mencari bahan baku besi. Bahan bakunya adalah Per mobil bekas yang menjadi bahan baku utama kerajinan yang bisa di peroleh dengan mudah di bengkel bengkel mobil atau membeli di toko serta pasokan dari pemulung.

Sementara bara api untuk membakar besi menggunakan kayu arang. Hal ini cukup beralasan kerena panas yang di hasilkan akan lebih tinggi dan tahan lama di bandingkan dengan jenis kayu lain. Meskipun harganya jauh lebih mahal. Namun proses pembakaran dengan menggunakan arang juga jauh lebih cepat sehingga produk yang di hasilkan bisa lebih banyak. 

Untuk membuat satu kerajinan dari besi di butuhkan setidaknya empat orang sebagai pencapit beai atau yang memanasi besi tempa yang sekaligus memukul tempa dan di temani satu orang pemukul lainnya dan satu orang lagi untuk langkah selesai atau menghaluskan permukaan dan membentuk model dengan menggunakan gerinda.

Salah seorang bertugas membuatkan sarung dan gagang seperti golok yang terbuat dari kayu mahoni dan tanduk kerbau yang membutuhkan ketelitian yang tinggi dari para Panre Bassi. Suasana kerja pun dengan suara riuh rendah besi tempa terlihat di beberapa tempat di kampung itu yang sebagian besar penghidupan warganya bergantung pada pembuatan peralatan kerja dan senjata yang terbuat dari besi.

Abdul Rauf warga setempat mengatakan, Salah seorang warga di kampung barajarang itu bernama Rahman sejak kecil, beraktifitas dan tak pernah meninggalkan percikan api dan besi panas demi mencukupi kebutuhan sehari harinya bersama dengan keluarganya.

Di tengah panas api sepanjang hari yang di bantu dengan tiga orang keluarganya untuk mengolah besi dan kebetulan saat ini dirinya mendapat pesanan pembuatan puluhan sabit dari warga yang ingin di gunakan melakukan panen raya.

Harganya pun cukup terjangkau. Untuk jenis pisau dalam bentuk biasa, di jual dengan harga Rp 30 ribuh rupiah sedangkan parang panjang dengan ukuran normal di jual seharga Rp 50 ribu rupiah persatu.

Sementara jika pesanan seperti samurai, keris atau senjata lainnya yang sedikit rumit pembuatannya dengan memakan waktu lama, harganya dapat mencapai Rp 800 ribu rupiah hingga jutaan rupiah.

“Tak perlu susah menjual hasil karya para Panre Bassi itu setiap minggunya para pedagan yang berjualan di sejumlah pasar tradisional datang untuk membeli barang yang sudah jadi. Di tempat ini, para panre bassi biasanya menerima pesanan dari berbagai daerah dan serasa berlomba dalam kompetisi untuk memenuhi target pesanan komsumen. Namun meskipun demikian, sikap tenggang rasa para panre bassi tentunya masih ada di wilayah ini,”jelas Rauf menceritakan.

Lanjut Rauf, Hampir setiap hari usai menempa atau membakar besi, berkumpul untuk sekedar bercerita, meski berprofeai sama tak ada rasa bersaing karena menjadi perajin besi tempa atau Panre Bassi merupakan profeai turunan yang harus di jaga secara bersama sama.

Serbuan Produk, baik buatan pabrik lokal dan prodak impor dari luar yang kian membanjiri pasaran tidak lantas menyurutkan semangat para Panre Bassi di Kampung Barajarang ini untuk meninggalkan profesinya.

Inilah bagian dari potret sebuah desa di jeneponto yang penduduknya masih menjaga tradisi dan budaya nenek moyangnya, hingga menjadi potret yang tak di makan oleh zaman dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang ini. Biasanya sudah berhenti pada jam jam istrihat atau jam tidur warga, maklum saja, suara beai yang beradu sering membuat gigi rasa ikut di adu.

“Meski terkenal sebagai kampung pandai besi tak semua warga mampu menjadi Panre Bassi bukan karena terkendala keterampilan, melainkan terbatasnya peralatan kerja. Kalau ingin lebih dekat dan mengenal kampung Pandai besi atau tertarik untuk memesan alat alat pertanian atau rumah tangga yang terbuat dari besi, silahkan saja kejeneponto harganya dapat di jangkau, yuk, kedaerah yang berjuluk butta turatea,”kata Rauf.

Redaksi