Sirup Jahe Merah Produk Unggulan Desa Bontotangnga Bantaeng

Kepala Desa Bontotangnga, Saharuddin.

BANTAENG | Pemerintah di tataran desa tak henti-hentinya melakukan inovasi dalam meningkatkan mutu pembangunan dan pengembangan yang dapat menunjang bagi Kabupaten. Seperti yang dilakukan Desa Bontotangnga, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng.

Kepada Wartawan, Saharuddin, mengaku menerima tantangan Bupati Bantaeng, Dr Ilham Azikin untuk membuat produk unggulan atau bursa desa demi meningkatkan kualitas, sekaligus pendapatan bagi desa-desa di Kabupaten Bantaeng.

“kemarin itu, Pak Bupati tantang kita dalam suatu desa, ada produk unggulan. Dan untuk desa kami, tantangan itu sudah terjawab dengan adanya produk sirup jahe,” kata Kepala Desa Bontotangnga, Saharuddin. Rabu (20/2/2019).

Bahkan, kata dia, produk sirup jahe ini sudah semakin berkembang sejak awal dirintis pada bulan Desember 2018 silam. Hal itu dibuktikan dengan adanya beberapa rekomendasi kelayakan produk dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantaeng.

“Ini sudah ada sertifikatnya, diantaranya sertifikat penyuluhan keamanan pangan, juga sertifikat produksi pangan industri rumah tangga,” tuturnya.

Saharuddin pun menjelaskan awal tercetusnya produk unggulan sirup jahe di desanya itu. Berawal ketika PKK Desa setempat melakukan seminar bekerjasama dengan mahasiswa KKN Universitas Bosowa atau Unibos.

“Awalnya itu kegiatan PKK yang bekerjasama dengan mahasiswa KKN Unibos, kegiatan saat itu dikemas dengan seminar kewirausahawan. Jadi pada waktu itu, saya ambil pemateri dari Makassar juga,” tutur Saharuddin.

Ide itu kemudian berkembang, didasari bahwa Desa Bontotangnga salah satu produksi pangannya ada tanaman jahe. “Jadi kita itu di sela-sela kopi di tanami jahe, stoknya aman,” ucapnya.

Lebih jauh dia menuturkan proses pembuatan sirup jahe. Dengan menggunakan alat sederhana, produk rumahan ini bisa diproduksi 20 botol ukuran sekira 400ml dalam kurun waktu 4 jam.

“Ini diparut, diperas, dipisahkan sarinya atau ampas. Banyak campuran termasuk kayu manis, ada juga serei, juga gula merah,” Saharuddin berujar.

“tiap hari saya konsumsi, jadi saya yang produksi saya juga yang minum campur madu, wah enak,” lanjutnya berkelakar.

Dia juga mengatakan bahwa produk unggulan yang dimasukkan ke Bumdes bersama ini, khusus untuk Desa Bontotangnga, bukan hanya sirup jahe. Saharuddin menyebut ada beberapa produk unggulan lainnya yakni serbuk jahe, cemilan jahe hingga makanan yang berbahan dasar kentang.

“Brownies kentang kita juga sementara garap,” sebutnya.

Proses pembuatan brownies kentang ini, juga diakui Kepala Desa tersebut terbilang cukup sederhana. Betapa tidak, oven yang digunakan bukanlah yang konvensional, melainkan diciptakan sendiri.

“Oven itu dirakit, dibuat dari bahan bekas tapi fungsi sama. Kita pakai kardus bekas didalamnya diberi lampu dan aluminium foil. Fungsi aluminium foil ini untuk menampung panas di dalam,” terangnya.

Kembali ke produk yang sudah jadi, sirup jahe, Saharuddin mengaku sudah dipasarkan melalui daring atau online. Marketing sepenuhnya diserahkan kepada Bumdes bersama.

“Sirup jahe ini dijual dengan harga 35 ribu rupiah per botol,” tukasnya.

Selain keuntungan finansial bagi produsen, untuk konsumen juga mendapat keuntungan berupa kesehatan.

Seperti diketahui, jahe merah mengandung beberapa manfaat bagi kesehatan seperti memiliki efek laksatif atau pencahar yang baik untuk pencernaan; mengurangi gejala demam dan flu; memiliki sifat antiemetik yang kuat, yaitu efektif mengurangi rasa mual, muntah dan mengatasi mabuk perjalanan; mengurangi gejala rematik dan sakit pinggang; mengurangi radang pada tenggorokan dan bisa menjadi pelega tenggorokan; mendukung optimalisasi fungsi paru-paru; mencegah hipertensi dan penyakit kardiovaskular; mencegah penyakit degeneratif pada saraf dan otak; serta mengatasi pusing.