Viral di Facebook Kisah Komjen Polisi Jusuf Manggabarani

LINKBERITA.COM – Kasus kriminal banyak dipicu dikarenakan gelap mata. Kendati demikian kalau akal tak digunakan, tentunya bakal terjadi main hakim sendiri, saling bermusuhan dan bahkan saling membunuh orang. Tulis pemilik akun facebook yang diunggah oleh @Sepgio Ramos Garcia.

Satu kisah menarik, saat itu. Jusuf Manggabarani masih berpangkat kapten dan menjabat perwira di Polrestabes Makassar. Menangkap dua orang pelaku tetangganya yang hendak saling bunuh, keduanya sudah menghunus senjata tajam dengan amarah yang mendidih, dan pada akhirnya Jusuf pun menangkap mereka dan membawanya ke kantor polisi.

Berangkat dari kisah tersebut, Komjen purn. Jusuf Manggabarani, dalam menyelesaikan kasus kriminal. Tidak mesti menggunakan pasal demi pasal. Namun beliau malah memanggil seorang Ulama. Tindakan berani ini berhasil menghindarkan dua orang yang mau saling membunuh.

Diketahui kedua orang yang berkasus itu, ternyata sudah lama bermusuhan, diperparah salah satu dari mereka membuang air di pekarangan rumah, disangkanya mau mengirim guna-guna.

Kapten Jusuf pun geleng-geleng kepala melihat keduanya, lantaran saling berdebat, sehingga Jusuf putuskan untuk memanggil seorang ulama ke kantor polisi.

Kisah ini ditulis dalam sebuah buku “Jusuf Manggabarani Cahaya Bhayangkara, karya, Nur Iskandar yang diterbitkan oleh PT Barneo Tribune Press pada tahun 2011

Tak habis pikir, sang ulama tersebut, awalnya sempat ketakutan kerena di jemput oleh polisi. Namun setelah sampai di kantor, Jusuf menjelaskan maksud dan tujuannya. Ulama itu, tak pikir panjang dengan senang dan siap untuk membantu.

“Ini adalah salah satu dakwah. Dakwah tidak hanya di mesjid saja, tapi juga di kantor polisi,” kata sang Ulama itu

Ulama membacakan hadits, barang siapa yang bermusuhan lebih dari tiga hari tempatnya di Neraka. Dia juga membacakan do’a kepada kedua orang yang ada didepannya itu,

“Ya Allah, kutuk mereka jika masih bermusuhan satu sama lain. Kutuklah mereka kalau tidak mau menepati janjinya,” do’anya

Dido’akan begitu kedua bertetangga tersebut takut, dan akhirnya keduanya sepakat untuk berdamai. padahal sebelumnya ingin saling bunuh dengan parang.

Menurut Jusuf, kasus seperti ini bisa diselesaikan dengan pendekatan kekeluargaan. Bisa saja lewat pengadilan. Tapi nanti pasti muncul dendam dan permusuhan tak akan selesai.

Kapolres sampai memuji Jusuf Manggabarani mendengar cara tak lazim itu. “Suf, belum pernah terjadi penyelesaian dengan Kyai seperti ini,.. ” Bisa Komandan yang penting kasus jangan diuangkan,” ungkap jenderal Jusuf.

Jusuf banyak menyoroti kasus-kasus tindak pidana ringan. Misal, ada tukang becak malakukan pelanggaran ringan dan ditahan. Gara-gara ditahan keluarganya tak ada yang memberi makan. Nantinya anak-anaknya malah menjadi pencuri. Disini polisi harus bijak melihat.

Contoh lain, ada polantas menilang mobil pengangkut sayur di jalan. Biarkan saja si sopir membongkar sayur manyur itu di pasar lebih dulu, baru setelah muatan kosong dibawa ke kantor polisi untuk diproses.

“Jika gara-gara STNK mati mobil yang berisi sayur dan muatannya ditahan maka itu menyiksa si sopir dan pedagang,” katanya

“Jika polisi kinerjanya begitu maka masyarakat akan puas dengan pelayanan polisi. Kepercayaan kepada polisi pun tak perlu diminta. Masyarakat akan hormat kepada polisi kerena polisinya hidup terhormat,” bebernya

Semoga kisah Komjen purn. Jusuf Manggabarani yang pernah jadi Komandan korps BRIMOB dan Waka Polri mengisnpirasi para polisi lain, tulis Sepgio Ramos Garcia.

Ribuan para nityzen berkomentar diantaranya, Rama, Polisi seperti itu 1 banding 1000, tulisnya,

Itnair Naufal. Bijaksana,saya kagum jika ada polisi yg sprti ini… tulisnya,

Sementara Joni Sumarjana, Mantap ide seperti ini yg sebenarnya yg kami tunggu” jangan dikit2 di tilang,akan lebih terhormat dan mengena ke masyarakat, juga tulis komentaranya dan

Seno Hary. Salut & Hormat!,inilah contoh yg disebut pengayom masyarakat!,penindakan hukum yg tidak selalu bermuara di penjara…,smg selalu ada penerusnya Aami..in, tulisnya

Penulis : Samsir